Jumat, 23 November 2007

Tolak Angin vs Bintangin

ANGIN PINTER VS ANGIN NGGA PINTER
Iklan Tolak Angin mendapat balasan dari iklan Bintangin. Iklan Tolak Angin dengan slogannya ‘orang pintar minum tolak angin’ memang seharusnya mengusik kita untuk berpikir kalau gitu jamu apa yang bisa diminum oleh orang yang ngga pintar. Bintangin meledek tolak angin dengan iklan yang ngga terlalu lucu dan terkesan maksa, namun memiliki makna yang dalam. Apalagi iklan Bintangin ditutup dengan slogannya ‘kalo yang ini semua bisa minum’.

Tentang iklannya sendiri, pertanyaan yang diajukan oleh penjual kepada pembeli emang konyol, namun yang lebih konyol adalah apakah orang yang ngga pintar Cuma ditentukan oleh pertanyaaan ajaib kaya “siapa penemu spion?” Melihat sasaran iklannya yang salah satunya adalah sebagai counter atas iklan tolak angin (iklan Tolak Angin tergolong bagus dari segi sinematografi, pencahayaannya pas, bintang iklannya orang top dan emang menonjolkan kesan smart, halah) maka hal ini tidak otomatis membuat orang membandingkannya dengan tolak angin. Aku aja baru paham kalo iklan bintangin ini ngeledek tolak angin setelah ada narasi yang kira-kira bilang ‘masak mau ngatasin tolak angin musti jadi pinter dulu?’ kata-kata persisnya aku lupa, pokoknya intinya gitu, trus aku pun bilang “Oalah..” Orang pintar pasti dikit banget yang tahu siapa penemu spion, apalagi yang tau jumlah baut di motor palingan Cuma orang-orang yang kerja di pabrik motor.

Apakah dengan munculnya iklan Bintangin ini akan mengurangi angka penjualan Tolak angin? Akankah angka penjualan Bintangin akan naik setelah iklan mereka disiarkan oleh banyak TV nasional? Saya rasa dua-duanya mungkin terjadi. Namun Tolak Angin kemungkinan besar tetap akan mengungguli jauh Bintangin. Alasannya antara lain:
1.Tolak Angin lebih lama dikenal.
2.Ketersediaan Tolak Angin mungkin telah jauh mengungguli produk sejenis.
3.Iklan Bintangin kurang nonjok, agak-agak kurang dimengerti, untungnya ada konklusi bahwa semua orang bisa minum Bintangin.
4.Orang endonesah pengen dianggap pinter, makanya minum Tolak Angin, kan ‘orang pintar minum tolak angin’, kalau mereka ketahuan minum Bintangin jadi ketahuan dong kalau mereka ngga pintar.

Kesimpulannya bangsa endonesah masih kurang kreatip, klo ngga nyontek bisanya palingan ya ngledekin karya orang lain. Atau karena budget pembuatan iklannya tipis jadinya iklannya terkesan asal, maksa dan black campaign seperti ini?
BTW, ini bukan iklan lho, but klo pihak Tolak Angin seneng dengan posting ini bisa kok kasih persenan, tinggalin aja pesan di shoutbox. Trus klo pihak Bintangin merasa keberatan, pengen posting ini dihapus atau sekalian pengen dibuatin advertorialnya di blog ini, atau malah pengen pasang iklan ya monggo, silahkan, tangan saya terbuka untuk menerima uluran dana dari pihak manapun, hehehe...
Malangraya, 1501181107.



2 komentar:

Imo mengatakan...

keren2 tuh review nya....
mantaph...
pertama kali dengar iklannya langsung ngakak...

yang paling gw seneng tuh poin yang
"endonesah pasti milih tolak angin, kan selalu mw terkesan orang pinter padahal ...(isi sendiri)"

cecepcakep mengatakan...

@ imo: padahal ngga pinter/sok pinter/keminter/pura-pura pinter (pilih salah satu, he4x)

ada versi lain iklan bintangin yg ttg 'Karyawan'